innv1

Chapter 3 – Alat Pertanian Serbaguna

Alat pertanian serba guna adalah alat yang bisa berubah bentuk.

Bebas dimasukkan ataupun dikeluarkan.

Saat menggunakannya, tenggorokanku tidak merasakan haus, perutku tidak terasa lapar, dan aku juga tidak merasa mengantuk.

Tapi dimana acuan untuk menggunakannya?

Misalnya, saat kamu menggunakan alat pertanian serba guna, ayunkan saja itu , tancapkan ke tanah dan tarik keluar lagi saat menggunakan itu.

Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa kamu dapat menggunakan cangkul sambil menyimpannya.

Ini sama dengan alat-alat pada umumnya.

Tapi saat kamu memukul 10 tumpukan dengan palu, misalnya.

Aku bisa memukul tumpukan itu saat menggunakannya, itu tidak bisa digunakan dari tumpukan ke tumpukan.

Ketika aku mengatakan apa yang aku inginkan, alat pertanian itu berubah menjadi pisau kecil saat aku membuat aksesoris, meski efektif saat bekerja, itu menjadi tidak efektif saat selesai dan memulai item berikutnya.

Bahkan dalam waktu singkat, ini menjadi semakin besar karena apa yang ku buat menumpuk.

Dengan kata lain, sekarang aku haus, juga lapar, serta aku mulai merasa mengantuk.

Setelah matahari terbit, aku pergi ke sumur dengan lubang diagonal yang kugali kemarin untuk sementara waktu, aku mengeluarkan cangkir kayu yang kubuat dari pisau kecil tadi malam tanpa tidur.

Dibagian belakang sumur, air terkumpul dalam kedalaman 1 meter, aku berusahan semaksimal mungkin untuk mengambil air di bagian paling atas.

Aku bisa meminumnya.

Seharusnya aku bisa meminumnya.

Tidak ada pilihan untuk tidak meminumnya karena aku haus.

Keberanian seorang pria.

Aku memiringkan cangkir sedikit dan mengisi sedikit di mulutku.

Nerveous, ini tidak terasa aneh.

Aku pikir ini air biasa.

Aku berpikir seperti itu.

Karena haus.

Aku membulatkan keinginanku dan meminumnya.

Ini lezat.

Kemudian….. jika aku tidak merasa sakit perut atau sakit dari situasi ini untuk sementara waktu, maka itu tidak ada masalah ……

Aku tidak punya pilihan lain selain menunggu sementara waktu ……

Selanjutnya adalah makan.

Sebelum itu, konfirmasi dulu situasi saat ini.

Aku membuat tempat untuk tidur di batang pohon yang besar.

Disekelilingku, tanahnya sudah dilunakkan saat aku membajaknya dengan cangkul.

Sebuah sumur juga sudah digali secara diagonal ditempat yang agak jauh dari tempat tidur.

Kemudian, sebuah jalan sudah dibajak dengan lebar 5 meter yan meluas dari tempat pertama pembajakan kan?

Meski aku tidak bermaksud membuat jalan , lihatlah jalan ini.

Panjangnya kira-kira 100 meter.

Membuat barang barang hand made dengan alat pertanian serbaguna tanpa tidur.

Item kecil seperti cangkir dan piring, ini adalah item yang dibuat dengan cara memotong pohon.

Karena ini dibuat dalam semalam, maka ini jumlah yang masuk akal.

Baik.

Bagaimanapun, aku harus bergerak sambil mengayunkan cangkul dan mencari sesuatu untuk dimakan.

Idealnya adalah kacang-kacangan.

Aku senang bila menemukan apel atau anggur.

Lalu aku segera berpikir, aku harus menyalakan api sebelum itu.

Aku tidak akan mengulangi kegagalan kemarin.

Kumpulkan serpihan kayu dan ranting kayu dari pembuatan aksesoris yang agak jauh dari tempat tidur, kemudian ganti alat pertanian serbaguna menjadi kaca pembesar dan nyalakan.

Kemudian tambahkan daun kering untuk menstabilkan api.

Butuh waktu lebih lama tapi aku berhasil membuat api.

Aku bisa melakukannya…..aku takut untuk meninggalkannya.

Akan bermasalah jika ini menjadi kebakaran hutan.

Jadi, sebaiknya mencari makan dalam jangkauan pemantauan api.

Dengan kata lain, mari kita perluas area disekitar tempat tidur.

Aku akan bekerja keras.

Ada sekitar 200 meter ruang yang tersedia dengan pusat yaitu pohon tempat tidur.

Bagaimanapun, mencangkul itu menyenangkan.

Dalam perjalanan, jika aku membuat semua pohon menjadi pupuk,maka persediaan kayu akan menjadi mengkhawatirkan, aku akan menebang pohon dengan kapak saja.

Aku menemukannya pada waktu itu, saat memotong batang pohon ….. alat pertanian serba guna sepertinya dapat dimanipulasi tanpa tahu nama alatnya.

Aku bisa menggerakkan pohon tanpa merasakan berat pohon dengan benda seperti kaitan pohon dan mengaitkannya ke pohon.

Alat pertanian serbaguna sangat nyaman.

Dibalik hamparan pohon, banyak pohon besar berdiameter sekitar 1 meter dan 2 meter. Sepertinya tidak akan masalah soal kayu.

Berkat itu, target mencari makanan benar-benar diluar kepala.

Terjadi insiden, apakah ini keberuntungan atau mungkin kesialan.

Ketika aku membajak sekeliling seekor binatang tampaknya menabrak cangkul.

Hewan itu nampak seperti kelinci.

Namun ukurannya kira-kira seukuran anjing ukuran sedang, matanya bersinar dan terlihat tidak bersahabat, dua gigi diujung mulut terlihat seperti harimau saber, itu adalah kelinci yang bertaring …. bukankah itu hewan pengerat?

Bagaimanapun, aku tidak bisa mengkentikan cangkul yang mengenai kelinci, itu terlanjur diayunkan.

Itu bisa dikatakan adalah pukulan.

Cangkul memotong leher kelinci yang membungkuk ke depan, seperti itu …..

Kemudian dari leherkeatas menjadi pupuk, namun bagian tubuh tetap ada.

…….. ……

Aku terkejut tapi tidak kaget karena aku sudah membunuh makhluk hidup, tapi perutku lapar.

Aku mendapatkan makanan yang kuinginkan.

Berdoa tangan. [TL Note: Dia mendoakan si kelinci]

Aku mendapatkannya.

Ubah alat pertanian serbaguna menjadi pisau, lalu bongkar dan bongkar.

Aku tidak tahu cara membongkar, bahkan jika aku bilang membongkar, ini lebih seperti dipotong sekaligus dengan bulu-bulunya.

Sementara itu aku melihat organ dalam kelinci dan panik.

Tidak baik membongkar organ dalam.

Terlepas dari jantung dan hati, perut dan usus mengandung sesuatu yang dimakan kelinci.

Dia menyerangku, memiliki taring sepertinya dia tidak makan rumput.

Perutnya tidak sepanjang yang aku duga, dan mereka adalah karnivora.

Keluarkan tanpa merusak organ dalam, keluarkan lalu buang.

Setelah itu, iris bagian bulu dan ambil dagingnya saja.

Aku bisa membuat tempat penggorengan aku tidak ingin terbakar, jadi aku mengabaikan tentang wajan.(TL Note: mungkin karena terbuat dari kayu)

Potong seukuran sekali gigit, masukkan ke tongkat kayu dan letakkan diatas api.

Mari kita buat tusuk sate lain waktu.

Setelah itu, mari buat pelat batu, bukan pelat besi.

Aku bisa mengamankan makanan saat itu.

Hal ini bisa dianggap dengan berbagai cara.

Kemudian memikirkan makan daging panggang.

Pahit.

Karena itu hanya dipanggang dengan api, maka itu hal yang wajar.

Tidak ada bumbu.

Bagaimanapun, tidak ada yang bisa dimakan.

Ini jauh lebih hambar dari pada makanan rumah sakit yang aku rasakan selama 10 tahun kehidupan dirumah sakit.

Makanan terakhir adalah infus.

Mengingat itu, setidaknya hidangan daging ini kumasak sendiri.

Ini membuatku menangis.

Kurasa tidak ada yang tidak bisa kita makan.

….. ….. …

Tidak peduli berapa banyak aku mengecek, ini tetap saja daging yang berbau darah.

Aku tidak bisa menipu diriku sendiri.

Sial.

Aku harus mengelola situasi untuk makananku.

Sambil mengatur kembali pikiranku, untuk saat ini, aku akan makan semampuku.

Masih sisa beberapa makanan.

Tempat yang sejuk agar tidak busuk….

Meski aku langsung memikirkan sumur, aku ingin menggunakannya sebaik mungkin.

Karena tidak ada pilihan, aku memanggang semuanya lalu menyimpannya.

Tampaknya akan sulit jika aku memanggang dagingnya, tapi ini lebih baik dari pada membiarkannya begitu saja.

Selain itu, organ dalam dan bulu yang dibuang dihancurkan dengan cangkul kemudian diubah menjadi pupuk.

Sampai sekarang perutku tidak sakit, jadi mari kita anggap air sumur itu aman.

Untuk saat ini perutku membengkak.

———————- bersambung ———————-