innv1

Chapter 4 – Toilet

Manusia, jika memakan sesuatu, maka akan mengeluarkan sesuatu juga.

Aku bertanya-tanya apa yang harus aku lakukan, aku membajak disekitar pohon tempat tidurku, ini sedikit bermasalah karena prospeknya terlalu bagus.

Selain itu, ini nuansa yang berbeda dari membajak tempat, dengan kata lain, jika memikirkan kedepannya, sebaiknya lakukan ditempat yang tidak dibajak, aku akan kesulitan untuk membajak itu.

Walaupun ini bisa menjadi pupuk kandang, tapi itu tidak bisa daat baru dikeluarkan.

Harus difermentasi.

Tidak, jika membajaknya dengan cangkul dari alat pertanian serbaguna, semuanya akan menjadi pupuk, tapi itu tidak membuatku merasa ingin menggunakan kotoranku.

Jadi aku punya tempat untuk tidur, air, api, dan makanan, yang aku inginkan selanjutnya adalah toilet.

Toilet …….

Untuk saat ini, pusatnya dipohon tempat aku tidur, pilih tempat yang berlawanan dengan sumur.

Karena akan bermasalah jika baunya keluar, agak jauh.

Pertimbangkan kedepannya, sebaiknya gali tanah secara diagonal sekitar 2 meter.

Aku sudah belajar bahwa aku tidak akan bisa keluar jika menggali langsung.

Gali sedikit lebih lebar, amankan ruang.

Ini akan baik-baik saja selama beberapa tahun.

Mungkin.

Karena sisa kotoran akan tersimpan, itu bisa menimbulkan masalah karena mencemari air tanah, pukul lantai dan dindingnya dengan palu untuk mengeraskannya.

Seperti yang aku pikirkan, tanah ini mengeras seperti beton.

Ini akan baik baik saja.

Di samping bagian dasar ini.

Pertama, lubang yang digali secara diagonal ini ditutup dengan papan kayu.

Papan kayu, ini adalah barang yang diolah dengan gergaji dan pahatdari alat pertanian serbaguna.

Aku tidak merasakan adanya perbedaan dengan yang dijual di toko konstruksi.

Kayunya tidak kering, bila diolah itu akan retak, sepertinya tidak perlu dikeringkan saat menggunakan gergaji dan pahat dari alat pertanian serbaguna.

Alat pertanian serbaguna sangat nyaman.

Tempat yang ditutup ini adalah jalur untuk pembuangan kotoran di toilet.

Kemudian buat lubang ditengah dengan estimasi perkiraan secara visual, lalu langsung gali lubang besar lurus ketengah.

Alat pertanian serba guna sedang berubah bentuk seperti sebuah pembuka botol raksasa.

Karena panjangnya sekitar tinggi badanku, aku khawatir apakah itu akan sampai ditempat bawah tanah tadi, tapi saat aku meletakkan pembuka botol raksasa itu, aku bisa mencapainya hingga bawah tanah .

Menggali dengan baik, bisakah aku melakukan ini?

Bagaimanapun, atur papan kayunya agar bisa menutup lubang ini dan buat lantai.

Dan sebuah lubang terbentuk di satu tempat dilantai, setelah menyelaraskan dengan lubang ditanah tadi, siapkan toilet duduk.

Toilet duduk dibuat dengan cara memotong sebatang pohon dengan ukuran yang bagus dan dibentuk.

—– TL Note: intinya pertama dia buat sepitank, jalur kotoran menuju sepitank, kemudian toilet duduk.——–

Ini bukan bergaya jepang, tapi bergaya barat.

Selain itu, ini tipe duduk ukuran mini.

Selain itu aku memasang papan kayu agar kedudukan toilet tidak bergeser.

Selanjutnya, dindingnya.

Aku berkeliling memukul pohon yang sepertinya merupakan pilar dengan palu dari alat pertanian serbaguna.

Aku merasa bila ini akan sesuai tinggi badanku bila aku langsung memukul pilar, karena itu aku membuat pijakan dengan tambahan kayu lain sehingga ini tidak ada masalah.

Tinggi pilar sekitar 2 meter.

Karena jarak antar pilar sekitar dua meter, aku merasa aku telah membuat ruang seluas dua meter persegi.

Apakah ini tidak terlalu lebar untuk toilet?

Tidak, ini lebih baik dari pada sempit.

Meski terlalu terbuka akan bermasalah, ini hanya agak lebar.

Un, un.

Aku mengukir alur alurnya dipohon pilar, lalu membangun dinding dengan memasang papan kayu agar sesuai dengan alurnya.

Aku berhasil menyelesaikan seluruh dinding, karena terburu-buru aku membongkar satu dinding lagi dan membuat pintu masuk.

Pintu masuk dibuat tanpa pintu, itu berdampingan dengan pilah pohon namun tetap terpisah, aku menutup mataku. (TL Note: mirip seperti pintu geser)

Ya, ini terasa nyaman.

Dan atapnya.

Atapnya belum selesai.

Masih terbuka.

Aku menundanya.

Untuk saat ini, aku menarik air dari sumur ke wadah yang lebih kecil dari ember, membawa air dan duduk ditoilet yang baru aku buat.

Air ini digunakan untuk cuci tangan dan untuk mengelap setelah itu…..

Itu dia.

Aku tidak menyiapkan daun sebagai kertas toilet.

Itu berbahaya.

Aku berlari ke hutan dan mencari daun yang bisa dijadikan tisu.

Aku tidak mendapat daun yang bagus, tapi karena aku menemukan rumput yang nyaman, jadi aku menggunakannya.

Aku harap ini tidak merubah apapun …..

Aku sudah tidak bisa bereksperiman, ini sudah diujung tanduk.

…………..

Aku tidak mengubahnya.

Perasaanku lega.

Setelah itu, aku butuh untuk membuat plafon.

Dengan ketinggian dua meter, tak terduga, ini sesak.

Jika dipikirkan, bila jaraknya dua meter, atap itu kira kira lebih besar sedikit dari pintu geser. Lain kali saat membuat ruangan, mari buat sedikit lebih tinggi.

Akan sulit bila gelap karena langit-langit akan tertutup rapat, aku membuat jendela kecil untuk penerangan yang cukup banyak di atas dinding.

Untuk cahaya malam hari, olah kayu ditungku.

Karena tungku terbuat dari sebatang pohon, aku khawati apakah akan terbakar atau tidak ……… mari kita simpan untuk nanti.

Setelah itu aku ingin membuat benda seperti tangki untuk mencuci tangan dan menyiram toilet….  tidak ada teknologi yang bisa membuat tangki untuk menyimpan air dalam pohon, aku memotong pohon besar dan menyiapkannya.

Berkat alat pertanian serba guna, rasa lelah dalam perjalan pulang pergi untuk mengambil air menjadi berkurang dengan adanya tangki.

Sulit untuk tidak memiliki peradaban.

Bagaimanapun toiletnya selesai.

Aku puas.

———————– bersambung ————————