rpgcover

Translator : Akino Shin

 

Chapter 2: Of Course, You Still Need to Complete Quests in an RPG

Rumah Tetua Desa tampak cantik dari luar, tapi karena tidak ada tanda-tanda khusus yang ditempatkan di luar, aku jadi tak banyak memperhatikan itu.

Namun, ketika aku membuka pintu, perabotan di dalamnya membuatku terkejut.

Untuk berpikir akan ada seseorang yang menempatkan perabotan mereka di dalam rumah dengan gaya ini… Apakah ini benar-benar rumah tetua desa atau ini sebenarnya adalah aula serikat (Guild Hall)?

“Jangan hanya linglung di pintu, bodoh! Ini hanyalah rumah NPC, tidak perlu menunggu orang untuk membukakan pintu sebelum kau masuk kan?”

“Hei, hei, apakah itu benar-benar tidak masalah di sini!? Bagaimanapun ini rumah tetua desa kan!? Ini terlihat benar-benar seperti aula serikat!”

Aliyah tidak terganggu sama sekali dengan itu, sebaliknya, dia memberiku tatapan ‘kau benar-benar menyusahkan’.

Apa karena dia tinggal di sini sudah cukup lama, sehingga dia sudah beradaptasi dengan dunia aneh ini?

“Apa yang kalian berdua butuhkan dari orang tua sepertiku ini?”

Kemudian, orang tua berjanggut putih, yang tampak persis seperti tetua desa seharusnya, berjalan keluar dengan tongkat dari ruangan di belakang kami.

Selain label nama ‘Western’ dan LV 1 di atas kepalanya, tidak ada rasa ketidaknyamanan darinya.

“Receive quest!”

Aliyah, dengan tidak sopan, berbicara nyaring.

“Aliyah, tidak bisakah kau menjadi lebih sopan ketika berbicara kepada orang tua?”

“Itu mengapa aku bilang kau bodoh! Bagaimana bisa ini terlihat seperti manusia nyata bagimu!”

Dia benar, saat Aliyah mengatakan ‘Receive quest’, tubuh orang tua itu menegang dan berdiri diam. gelembung percakapan putih kemudian muncul di atas kepalanya, seperti pemilik toko sebelumnya.

Serangkaian quest ditunjukkan, di mana beberapa bagian diatas telah ditandai dengan tanda silang. Sepertinya ini sudah dikerjakan.

Ini… meskipun aku tak ingin mengakuinya, aku benar-benar ingin berkata kasar.

Aku harus menolak, ini bukan tempat untuk secara acak melontarkan komentar lurus…

Aliyah memilih beberapa quest dari daftar, dan kemudian berjalan ke arahku dan melemparkanku ke atas. Ya, dia tidak menarikku ke atas, tetapi sebaliknya, dia menggenggam tanganku dan melemparkan ku pada tetua desa.

Angka ‘-78’ muncul di depan mataku, dan aku menatap marah pada Aliyah. Namun, dia hanya menunjukkanku dengan terburu-buru, mengabaikan ekspresi pada mataku.

Gadis ini… kepribadiannya ini begitu kacau. Ketika aku melihat ke daftar pencarian lagi, quest terselesaikan sebelumnya mengalami perubahan. Sebelumnya mereka dicoret, tapi aku bisa memilihnya lagi. Namun, itu hanya quest untuk Level 1 – Level 3.

“Kau lihat itu? Ini adalah System quest dunia aneh ini. kau hanya dapat menerima quest yang berada di bawah levelmu, dan jumlah quest kau dapat ambil akan dibatasi oleh Levelmu. Sejak kau level 3, paling banyak kau hanya dapat menerima 3 quest.”

Aliyah dengan angkuh berkata sambil mengangkat dadanya, dan kemudian menarikku sementara dia berjalan menuju pintu.

“Hei hei, apa yang kau lakukan!?”

“Aku akan membawamu ke mana kau bisa menyelesaikan quest! quest ini diperbarui hanya dalam 7 hari, semakin cepat kau menyelesaikan mereka, semakin baik kan?”

“Kita pergi tanpa mengatakan apapun?”

“Apakah kau pikir Npc akan peduli!?”

Saat aku bergerak 3 meter dari tetua desa, gelembung percakapan di atas tetua desa menghilang.

“Sampai Jumpa!~”

Ketika aku meninggalkan rumah, aku mengatakan ini kepada tetua.

Tetua tersenyum saat ia mengangguk. aku kira dia mendengar itu.

“Tunggu, bahkan jika kita menaikkan level seperti ini, itu tidak berarti apa apa. Tidak adakah cara yang bisa kita temukan untuk meninggalkan tempat ini?”

“Ah, bahkan tanpa kau mengingatkanku, aku tahu itu. Namun, aku sama sekali tidak memiliki petunjuk untuk meninggalkan tempat ini~”

Aliyah membebaskanku, dan berbalik untuk melihatku.

“aku memeriksa semua rumah-rumah di sini, dan tak ada temuan yang berguna. Tempat ini dikelilingi oleh pegunungan yang curam, dan tidak ada cara untuk menggalinya ataupun mendaki di sepanjang jalan. Apa lagi yang bisa kulakukan?”

“Apakah kau mencoba menyelesaikan semua quest?”

“Ya, hanya tersisa 2 quest yang belum kuselesaikan. Itu sebabnya aku memberitahumu untuk buru-buru, jadi kita bisa meninggalkan tempat ini bersama-sama!”

“Jadi ini…”

Melihat bagaimana dia begitu putus asa, dan bagaimana dia lelah menjelaskan itu, aku hanya bisa mengangguk dan mengikutinya ke luar desa.

 

————————- Bersambung ———————–