sgv3

Chapter 39 – Menuju Ibukota Kerajaan

Part 1

 Hari untuk kelompok perdagangan dari desa berangkat ke ibu kota telah tiba.

Saat itu masih pagi ketika penduduk desa dan mereka yang pergi ke ibu kota berkumpul di alun-alun desa.

Sekitar sepuluh gerbong dengan barang-barang telah disiapkan. Selain baraang-barang dari desa sendiri, ada juga barang-barang yang diserahkan dari desa Gon.

Termasuk Rio, ada sekelompok besar berjumlah 15 orang yang akan menuju ibukota.

Jarang ada yang bersenjatakan senjata dan baju besi di desa. Namun, hari ini, semua orang, termasuk Rio, sepenuhnya dilengkapi.

「Rio.」(Ruri)

Setelah pemeriksaan akhir kargo, Ruri memanggil Rio yang bosan dengan suara yang sedikit tegang.

Yuba berdiri untuk mengawasinya dari belakang.

Rio mengarahkan senyum ramah ke arah mereka.

「Ruri-san, Yuba-san. Aku akan pergi sebentar. 」(Rio)

Dia mengucapkan salam perpisahan pada mereka berdua dengan suara tenang.

“Ya. Hati-hati.”

「Kamu juga, pastikan untuk menjaga dirimu sendiri.」

“Mengerti.” (Rio)

Keduanya kembali tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal padanya, yang direspon dengan tegas oleh Rio.

「Lalu … Uhm …」(Ruri)

Tampaknya ingin mengatakan sesuatu, Ruri tergagap dengan beberapa kata, sepertinya dia kesulkitan merumuskan kata-katanya.

Dia melontarkan ekspresi sulit yang dengan cepat dilihat Rio.

“Ada Apa?” (Rio)

「Ya … Uhm … aku minta maaf!」(Ruri)

Atas pertanyaan Rio, Ruri dengan penuh semangat menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Rio jelas menjadi terkejut.

Namun, dia segera menyadari kenapa dia minta maaf.

Itu mungkin terkait dengan apa yang Yuba berbicara dengannya beberapa hari yang lalu.

「aku telah melakukan sesuatu yang buruk pada Rio, bukan? Meskipun Rio menyelamatkanku, aku masih takut padamu … 」(Ruri)

Mengatakan itu dengan penyesalan, Ruri meminta maaf kepada Rio dengan suara putus asa.

Dia menjaga bahunya tetap lurus, untuk menampilkan tekadnya.

「Tidak perlu meminta maaf karena itu adalah hasil dari diriku yang kehilangan kendali atas emosiku. Itu Bukan salah Ruri-san. 」(Rio)

Rio membalasnya dengan senyuman masam.

「Ta— Tapi …」(Ruri)

Rio membuat ekspresi minta maaf, melihat Ruri masih ingin meminta maaf.

「meskipun begitu, Ruri-san masih mengkhawatirkanku. Jadi, aku yang salah. 」(Rio)

Rio memberikan penjelasan yang lambat dan tanpa basa-basi.

Karena dia telah membuat Ruri takut, Rio menghindari interaksi yang tidak perlu dengan Ruri, takut bahwa dia hanya akan membuatnya tambah takut jika dia secara aktif mencoba untuk menutup jarak

Meski begitu, Ruri khawatir dengan ketidakstabilan emosi Rio dan secara teratur mendekatinya meski takut.

Dengan kata lain, mereka berdua saling prihatin tentang satu sama lain dan akhirnya hanya membuat situasi menjadi lebih buruk.

Rio merenungkan pilihan yang dia buat.

Dia membuat orang lain mengkhawatirkannya. Untuk mencegah hal seperti itu terjadi, dia seharusnya lebih banyak berkomunikasi sejak awal.

Hubungan manusia itu rumit; melakukan apa yang dianggap terbaik bisa benar-benar menghasilkan hasil yang berlawanan.

Rio menghela napas dalam hati, mengakui bahwa dia masih tidak berpengalaman ketika berhubungan dengan masalah sosial.

“Itu salah! Rio bukan orang yang salah di sini! Ini adalah situasi dimana aku seharusnya berterima kasih kepadamu. Aku salah karena takut pada Rio, jadi tolong, izinkan aku untuk meminta maaf. Aku benar-benar minta maaf!” (Ruri)

Rio membantah bahwa dia telah melakukan sesuatu yang salah tetapi Ruri tanpa henti meminta maaf.

「Tidak, itu hasil dari kurangnya pertimbanganku sendiri. Bahkan jika aku menyelamatkanmu, aku salah mengartikannya. 」(Rio)

「Bu– Bukan itu! Akulah yang salah. 」(Ruri)

 「Tidak, itu wajar untuk Ruri-san menjadi takut dan akulah yang menjadi penyebabnya.」(Rio)

“Seperti yang aku katakan! Rio tidaklah salah! Tapi aku!” (Ruri)

Terjebak dalam kebuntuan permintaan maaf, suara Ruri menjadi panas.

“Tapi…” (Rio)

「Tidak apa-apa! Aku yang salah di sini! 」(Ruri)

Ruri dengan datar memotong Rio sebelum dia bisa menyangkal kesalahannya dan menegaskan bahwa dialah yang harus disalahkan.

Memahami bahwa dia tidak akan mundur, Rio berkedip sejenak.

“Aku mengerti … Lalu kita berdualah bersalah. Bagaimana tentang itu?” (Rio)

Melihat Ruri yang keras kepala, Rio membuat usulan seperti itu dengan senyuman pahit.

Rio percaya bahwa dia yang harus disalahkan karena dia membiarkan emosinya menyusulnya, mengamuk dan membuat Ruri ketakutan.

Ruri percaya bahwa meskipun Rio menyelamatkannya, daripada bersyukur, dia malah menjadi takut pada penyelamatnya.

Mereka berdua khawatir tentang satu sama lain tetapi tidak mengambil inisiatif untuk mendiskusikan perasaan mereka.

Itu agak disayangkan.

Jika itu masalahnya, kompromi harusnya akan menguntungkan.

「Tidak— … ya. Itu benar … bukan? 」(Ruri)

Untuk sesaat, Ruri hendak menyanggah saran Rio, tapi mungkin setelah memahami niatnya, dia akhirnya mundur.

Meskipun masih ada jejak ketidakpuasan di matanya, mulutnya membentuk senyum lembut.

Rio juga tersenyum lembut padanya.

Itu menghangatkan hati Rio dimana dia dapat melihat sekilas ketulusannya melalui reaksinya.

Sementara mengakui Ruri dalam hati, Rio mengulurkan tangannya.

「Haruskah kita berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan?」(Rio)

 Untuk sesaat, Ruri berdiri di sana tanpa sadar, tetapi ketika dia melihat di tangan rio yang terulur, dia menggenggamnya dengan ekspresi sedikit terkejut.

“Ya! Maaf, aku minta maaf, Rio …” (Ruri)

Dengan air mata mengalir di pipinya, Ruri dengan kuat menggenggam tangan Rio.

Part 2

「Aku juga … Mari bicara lagi ketika aku kembali. Aku pergi kalau begitu. 」(Rio)

「Ya, mari berjanji untuk itu!」(Ruri)

 Ruri menunjukkan senyum cerah saat dia dengan bersemangat menyetujui proposal Rio.

Melihat keadaan mereka berdua, Yuba mengarahkan senyum hangat pada mereka dari belakang.

「Yuba-san, aku akan pergi. Aku akan pastikan untuk melindungi barang selama perjalanan, jadi tidak perlu khawatir. 」(Rio)

Merasa Yuba sedang menatapnya, Rio menjadi sedikit malu. Namun, dia dengan cepat menyingkirkan perasaan itu dan berbicara dengan sikap serius.

「Ya, tolong. Tapi, tolong ingat bahwa hidupmu jauh lebih penting. 」(Yuba)

“Itu benar. Rio, tolong berhati-hatilah, oke?” (Ruri)

“Mengerti.” (Rio)

Untuk memiliki keluarga yang benar-benar mengkhawatirkannya, kebahagiaan bermekaran di dalam dirinya saat dia menjawab dengan senyum damai.

Dengan ketiganya yang telah menyelesaikan percakapan mereka yang sulit pada awalnya karena penghalang di sekitar mereka—

「Uh— Uhm! Salam hormat, Rio-sama! 」(Sayo)

Sayo, yang dengan takut mengawasi mereka dari jauh, akhirnya mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara kepada Rio.

Meskipun dia biasanya mengenakan pakaian khas desa, kali ini dia berpakaian untuk perjalanan.

Seperti yang bisa diduga, dia adalah salah satu dari mereka yang akan menuju ke ibukota juga.

Awalnya, Ruri harus pergi, tetapi insiden beberapa hari yang lalu menghasilkan perubahan rencana.

Yuba melarang Ruri ikut serta, dan menyuruh Sayo, yang belum pernah ke ibukota sebelumnya, untuk berpartisipasi sebagai pengganti.

“Tentu saja. Salam hormatku juga untukmu.” (Rio)

Rio membalas sapaannya dengan cara yang tenang.

Yuba dan Ruri menyaksikan Sayo yang tegang dengan mata hangat.

「Y— Ya! Meskipun ini mungkin akan merepotkan Rio-sama, tolong jaga Onii-chan juga. 」(sayo)

「Ya, aku akan mencoba yang terbaik untuk menjaga semua orang tetap aman selama perjalanan kami, tetapi harap ikuti perintahku selama keadaan darurat.」(Rio)

「Sayo-chan, berhati-hatilah, oke?」(Ruri)

Dalam persiapan untuk skenario terburuk, Sayo diberitahu untuk mematuhi setiap perintah tanpa pertanyaan.

“Iya!” (Sayo)

Mendengar kata-katanya, Sayo menjawab dengan tegas.

「Oi, Sayo. Apa yang kamu katakan. Aku bisa melindungi diriku sendiri, kamu tahu. 」

Mungkin setelah mendengar percakapan mereka, Shin memaksa masuk ke percakapan dengan tatapan tidak senang.

Rio menutup matanya sedikit.

Meskipun dia sedikit kesal, sangat jarang bagi Shin untuk mendekati Rio.

Siapa yang bisa mengubah sikapnya ya?

「Onii-chan, tidak ada gunanya berkelahi dengan Rio-sama, kamu tahu.」(Sayo)

Seolah-olah menegur seorang anak yang gaduh, Sayo menegur Shin dengan nada sedikit ketat.

Shin adalah kakak tertua Sayo.

Shin nakal dan Sayo yang sederhana. Meskipun kepribadian mereka kontras, Sayo masih berbicara kepada Shin.

「Ke— Kenapa aku harus berkelahi dengan orang itu?」(Shin)

Meski berusaha membantah, suaranya terdengar hampa.

「Ya ampun, Onii-chan, bukankah kamu baru saja mengatakan hari itu bahwa kamu akan berusaha mengenali Rio-sama karena dia menyelamatkan Ruri-san kan? Kamu tidak bisa bertindak seperti anak yang pemarah selamanya. 」(Sayo)

「Bo-Bodoh! Jangan mengatakan sesuatu seperti itu! 」(Shin)

Shin bereaksi dalam kebingungan dan Sayo yang mengungkap pikiran batinnya.

Rio dan Ruri menyaksikan keduanya dengan agak terkejut.

“Hm— Hmph, aku bersyukur kamu melindungi Ruri. Kamu melakukannya dengan baik.” (Shin)

Sambil memelototi Rio dengan wajah sedikit memerah, Shin terus berbicara.

Rio dan Ruri tersenyum geli melihat tingkah lakunya yang kekanak-kanakan.

“Terima kasih.” (Rio)

「Aku harap kamu bisa patuh sejak awal. Sungguh, anak seperti kamu itu. 」(Ruri)

Meskipun masih memiliki lidah yang tajam, dia sepertinya telah menerima Rio dengan satu atau lain cara.

Setelah diejek oleh Ruri, Shin berbalik ke arah lain.

「Bu– Bukan itu. Aku bisa menjaga diri sendiri jadi jika sesuatu terjadi, tolong lindungi Sayo. 」(Shin)

Dengan kata-kata singkat itu, Shin berbalik dan meninggalkan mereka.

Ketika dinilai oleh pihak ketiga, sudah jelas bahwa dia berusaha menyembunyikan rasa malunya.

“Maafkan aku. Saudaraku tidak jujur ​​tentang perasaannya.” (Sayo)

Sayo meminta maaf kepada Rio. Sepintas, sepertinya Sayo adalah kakak perempuan dan Shin adalah adik laki-lakinya.

「Ada banyak pria dengan berbagai kecanggungan sosialnya. Meskipun dia mungkin bertindak seperti itu, itu bukan cerminan akurat dari perasaannya. Memiliki sikap semacam itu tidak berarti dia orang jahat 」(Rio)

「Ya … Te – Terima kasih.」(Sayo)

Menunjukkan sedikit keterkejutan pada kata-kata Rio, Sayo dengan canggung mengucapkan terima kasih kepadanya.

Ada banyak kasus di mana perilaku Shin membuatnya mudah disalahpahami.

Itu adalah sisi kekanak-kanakannya.

Oleh karena itu, meskipun dia sering bertengkar dengan penduduk desa lainnya, Shin masih dicari oleh banyak pemuda di desa.

Namun, Sayo sedih atas fakta bahwa dia tidak bisa bergaul dengan Rio meskipun dekat dengan pemuda-pemuda desa itu.

Terus memikirkan cara untuk memperbaiki situasi, dia terus berbicara tentang Rio dengan Shin, meskipun itu tidak pernah menghasilkan reaksi yang baik.

Namun, ketika Rio menyelamatkan Ruri beberapa hari yang lalu, Shin akhirnya membuat pernyataan penerimaan.

Mungkin keduanya akhirnya akan baik-baik saja setelah ini.

Dia telah merencanakan untuk mencoba agar Rio memahami kepribadian Shin yang canggung, tetapi Rio dengan mudah melihat melalui perilaku luar Shin sebelum dia memiliki kesempatan.

Dia merasa terkejut dan senang, iri tentang saling pengertian diantara pria.

「Yosh, kami akan segera berangkat ~」(Dora)

Bertindak sebagai pemimpin grup perdagangan, suara Dora bergema di seluruh area.

Sepertinya waktu untuk keberangkatan sudah dekat.

Part 3

「Sudah waktunya, bukan? Ayo segera naik gerobak. Aku akan pergi, Ruri-san, Yuba-san. 」(Rio)

 「Ya, hati-hati!」(Yuba)

“Hati hati.” (Ruri)

Mengucapkan selamat tinggal sekali lagi, Rio mendekati salah satu gerobak dan mengambil kursi kusir.

「Aku mohon bantuanmu, Dora-san.」(Rio)

“Ou! Aku Juga.” (Dora)

Rio menyapa Dora yang duduk di sampingnya di gerobak.

Dora membalas sapaannya dengan senyumannya yang biasanya.

Peran Rio dalam kelompok perdagangan adalah untuk melindungi penduduk desa dan barang-barang mereka.

Rio melihat kembali ke gerobak.

Ketika matanya bertemu dengan orang yang duduk di sana, dia menerima ekspresi cemberut dan sorotan kebencian yang tak tertandingi.

Memang, yang duduk di sana adalah Gon, yang akan segera dihukum sebagai budak kriminal.

“Ha. Hanya melihat wajahmu sudah membuatku kesal! Kalau saja aku bisa membunuhmu sekarang!” (Gon)

Melihat wajah Rio, Gon melontarkan cercaan dan ancaman.

Dia terus memelototi tajam ke arah Rio.

 Dengan seluruh tubuhnya yang diikat oleh tali, bahkan dengan tubuhnya yang besar, dia tidak bisa membebaskan diri. Satu-satunya hal yang tidak berubah adalah sifat kurang ajarnya.

Rio mendesah kecil.

Sepertinya dia masih memiliki keinginan hidup

 “Hei, diamlah. Yosh, kurasa sudah waktunya untuk pergi. Ayo pergi!” (Dora)

Sambil berteriak ke arah Gon di dalam gerobak, Dora mengisyaratkan kepergian kelompok itu.

Langit masih redup karena matahari baru mulai merayapi cakrawala.

Meskipun begitu, uap putih dari nafas mereka masih bisa dilihat yang menunjukkan kalau kelompok juga merasakan rasa dingin pagi yang menggigit.

Ditemani sebentar oleh penduduk desa, kelompok perdagangan memulai perjalanan mereka menuju ibukota.

「Hati-hati ~!」

Suara-suara penduduk desa terdengar di kejauhan.

Yaang berada di gerobak belakang masih melambaikan tangan mereka.

Rio ikut dengan gerobak yang memimpin perjalanan.

Jalan raya menuju ibu kota menghubungkan desa satu dengan lainnya. Itu secara teratur dibuat untuk mendukung lalu lintas gerobak dan cukup lebar untuk dua gerbong untuk bepergian berdampingan.

Namun, tanpa gerobak berkualitas tinggi, pengalaman berkendara menjadi tidak nyaman karena jalan yang tidak beraspal.

Waktu yang diperlukan untuk gerobak, perjalanan dari desa ke ibukota, akan memakan waktu tepat satu hari.

Meski tidak terlalu jauh, itu juga tidak terlalu dekat.

Agar dia tidak menderita sakit punggung, Rio membentangkan selimut untuk diduduki.

「Kamu menyombongkan diri sebagai seorang pria, namun kamu sangat membenci untuk mengotoriku. Kamu tidak berbeda dari seorang pengecut. 」

Kata-kata kebencian datang dari belakang gerobak.

Gon terus menerus melecehkan Rio.

Isinya hanya berisi ejekan dan ejekan.

Meski mencoba mendapat reaksi dari Rio, ia hanya bertemu dengan kesunyian.

Dia akan mencapai tujuannya jika Rio memukulnya lagi tetapi provokasinya hanya melalui satu telinga dan keluar dari telinga Rio yang lain.

Bahkan jika Rio merasa bahwa amukan Gon itu menyedihkan, dia tidak merasa marah.

「Oi, dengarkan aku! Aku masih hidup, aku akan melakukan apa pun yang aku suka, bagaimanapun kamu juga sama seperti aku! kita tidak berbeda satu sama lain! 」

Melihat Rio mengabaikan setiap kata yang dia katakan, kemarahan membumbung tinggi di dalam Gon.

Suaranya mulai berangsur-angsur menjadi lebih keras.

Bagus sekali Gon masih bisa sehidup ini.

Setidaknya, akan baik-baik jika dia terus melakukannya sampai mereka bisa menjualnya sebagai budak kejahatan.

Mereka membutuhkannya hidup-hidup, kalau tidak mereka tidak akan dapat menerima pembayaran reparasi untuk Ruri.

Bahkan jika dia tidak bertahan lama sebagai budak kejahatan, Rio tidak tertarik dengan nasibnya.

「Kamu tahu apa yang paling dibenci oleh diriku yang paling agung ini? Orang-orang sepertimu, yang mengenakan wajah yang baik tetapi penuh dengan keinginan kotor. 」

Rio merasakan kekaguman yang aneh bagi Gon yang mampu mengeluarkan hinaan sejak perjalanan dimulai.

Dia bisa berteriak dan menjerit sebanyak yang dia mau tapi suaranya menjadi terlalu keras.

Akan sangat merepotkan jika dia terus berteriak sepanjang perjalanan.

Dengan pemikiran itu, Rio mendekati Gon.

“Aah? Apa?”

Melihat Rio perlahan mendekat dengan tangannya terangkat, Gon melayangkan ekspresi yang bingung.

Membawa ekspresi kesal, Rio hanya bisa melihat Gon sebagai anjing berisik yang tidak bisa berhenti menggonggong.

Gon telah berbicara keras untuk membuat Rio kesal, tetapi dia hanya menjadi gangguan kecil bagi Rio.

(Lelucon apa ini!)

Rio adalah orang pertama yang pernah memukuli Gon.

Hingga insiden itu, Gon terus-menerus dikelilingi oleh para pengikutnya atau orang-orang yang takut padanya.

Ada beberapa orang yang secara terbuka bermusuhan dengannya, tetapi dia dengan cepat membuat mereka menyerah dengan kekuatannya semata.

Namun, Rio acuh tak acuh terhadap Gon.

Dia membencinya.

Mau bagaimana lagi karena Dia membencinya.

Rio menghancurkan harga dirinya dan membuat neraka di hidupnya. Meskipun Gon bermaksud mengejek Rio karena rio juga menyimpan kebencian, dia merasa seperti itu sudah terlihat.

「Tidur sebentar.」(Rio)

Mengatakan itu, Rio menggunakan Spirit Arts dan membuat Gon tertidur.

Perlawanan dimungkinkan jika seseorang unggul di kendali Odo tetapi untuk Gon, itu tidak mungkin karena dia tidak bisa menggunakan Spirit Arts.

Gon tertidur dalam sekejap.

「Ooh itu luar biasa. Jadi itu Spirit Arts, ya? 」(Dora)

Dora berbicara dengan kekaguman di tempat Gon tertidur dalam sekejap mata.

“Ya. Dia akan sedikit tenang dengan ini.” (Rio)

Akhirnya mendapatkan kembali kedamaian dan ketenangan mereka, Rio memberikan senyum masam saat dia berbicara.

Dia menaruh sedikit kekuatan ke dalam Spirit Arts-nya sehingga Gon bisa tetap tertidur sampai mereka mencapai ibu kota.

Setelah itu, obrolan mengalir dari setiap gerobak dan suasana damai yang tergantung di udara.

Meskipun ada kemungkinan serangan oleh binatang buas atau monster, dengan jumlah orang yang hadir dalam kelompok perdagangan, selama tidak ada sejumlah besar agresor, risikonya sangat rendah.

Selanjutnya, penduduk desa dipersenjatai dengan pedang pendek dan tombak jika terjadi serangan.

Bahkan sebagian besar bandit akan mengurungkan niat untuk menyerang sejumlah besar orang.

Namun, Rio dengan santai sedang memindai sekeliling mereka untuk mengecek aktivitas mencurigakan.

Jika kebetulan ada penyergapan, dia akan segera memperhatikan dan dapat segera mengatasinya.

Beberapa jam telah berlalu sejak kelompok perdagangan meninggalkan desa dan matahari bersinar di atas ketika gerobak terus bergulir di jalan raya.

Di bawah langit biru yang cerah, sinar matahari yang hangat memancar di atas mereka.

Lahan luas hijau menyebar di sekeliling mereka dengan gunung dan hutan terlihat di kejauhan.

Terbungkus dalam angin musim gugur yang sejuk sementara dikelilingi oleh pemandangan yang indah, Rio menikmati pemandangan saat mereka bergerak perlahan.

———— baersambung ———–