drgv1

Chapter 4 – Anak Laki-laki yang Mencurigakan

Setelah keributan di gerbang akademi, Rudel turun dari kereta, dan membawa barang-barangnya ke asrama anak laki-laki yang akan dia gunakan. Beberapa barang miliknya dibawa hanya dengan beberapa kali perjalanan, dan setelah para pelayan memberikan beberapa kata perpisahan yang samar-samar, mereka langsung kabur.

“Bukan kamar yang buruk sama sekali … meskipun aku merasa kamar ini agak terlalu besar untuk satu orang sebagai bagian dari asrama sekolah.” (Rudel)

Melepaskan pakaian bangsawannya sangat berornamen, dia berubah menjadi sesuatu yang simple dan mengamati jadwalnya. Setelah upacara masuk besok,  pertemuan untuk penjelasan tentang akademi dan pesta selamat datang akan menunggu. Pada usia lima belas tahun, para siswa akan memilih antara kurikulum dua, tiga, atau lima tahun … Banyak yang pasti lebih berbakat daripada dia, dan dia bersaing dengan mereka untuk menjadi seorang ksatria.

Saat dia memikirkan hal semacam itu, Rudel mulai menggerakkan tubuhnya di ruangan yang telah dia atur. Dengan semua ketegangan dan kecemasan ini, jika deia tidak bergerak, dia akan merasa semakin tegang.

Tetapi bahkan jika dia melakukannya, dia tidak bisa tenang. Sejak dia datang ke akademi, dia mengalami kecemasan dan kegelisahan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia merasakan sesuatu yang dekat dengan obsesi yang memaksanya untuk meninggalkan kamarnya.

“Apa ini? Ini tidak pernah terjadi sebelumnya…” (Rudel)

Dia berbicara sambil mengenakan pakaian sehingga dia tidak akan malu jika dilihat sedang berkeliling. Bahkan jika dia berjalan di sekitar akademi – area di sekitar asrama anak laki-laki tepatnya— ‘ini bukan tempatnya’, perasaan aneh bergema di kepalanya … oh apa pun! Dia membiarkan kakinya bergerak saat mereka mau.

Dan di mana kakinya membawanya … adalah asrama gadis itu.

“Apakah aku benar-benar memendam itu? Tidak, itu, yah … aku seorang pria, dan itu tidak seperti aku tidak tertarik. ” (Rudel)

Rudel cukup bingung pada fakta bahwa dia tidak sadar dia berjalan di sini. Akhirnyanya, sejumlah tentara wanita mendekat dengan waspada.

“Apa yang sedang kamu lakukan disana? Ini adalah asrama perempuan, dan dilarang untuk pria mana pun masuk. ”

Itu adalah penjelasan yang sopan, tetapi dalam asrama gadis itu terdapat beberapa siswi memiliki kedudukan sosial yang tinggi. Karena para prajurit ini akan menjadi yang pertama dibuang jika sesuatu terjadi, anak laki-laki itu hanyalah eksistensi yang merepotkan.

Karena itu, meski mereka sopan, ada kekuatan di tangan yang mereka gunakan untuk memegang pedang di pinggang mereka.

“A-Aku minta maaf. Aku tersesat … bisakah kau mengarahkanku ke asrama anak laki-laki? ” (Rudel)

“… Aku akan membawamu ke sana. Tetapi jangan berpikir bahwa alasan itu akan bekerja untuk kedua kalinya. ”

Kelompok yang suram itu menyuruh satu orang menemaani Rudel dan mengirimnya dalam perjalanan.

“ini menyedihkan, akan merepotkan jika bangsawan sepertimu tidak menguasai dirimu! Dengarkan di sini, satu kesalahan lagi, dan itu akan menjadi masalah besar yang akan meledak dalam kekacauan antar keluarga … ”

Prajurit wanita yang berjalan di depan memarahi dan menjelaskan dengan suara letih. Masalah-masalah akademi yang sering ditutup-tutupi adalah sumber-sumber kesulitan yang tak henti-hentinya bagi para prajurit.

Sepertinya kamu sudah melalui kesulitan … semua itu yang Rudel bisa rasakan. Dia tidak punya perasaan tidak senonoh meskipun memulai itu, dan itu adalah tempat yang dia pikir tidak akan dia datangi lagi. Rudel sesekali meminta maaf kepada kata-kata prajurit wanita saat dia berjalan menyusuri jalan menuju asrama anak laki-laki.

“Ah! Bisakah kamu menunjukkan kepadaku ID siswamu? Itu peraturan, demi argumen kami, jadi aku harus mengonfirmasi identitasmu … ”

Dari bangsawan hingga pelamar umum, akademi menampung siswa yang tak terhitung jumlahnya, dan membawa ID siswa disekitarmy adalah sebuah kewajiban. Itu adalah langkah untuk memastikan tidak ada orang asing yang menyelinap masuk, meskipun mengelola siswa adalah tujuan utamanya. ID siswa mencatat jumlah tahanan rumah pada saat itu, dan jenis masalah yang disebabkan oleh seseorang.

“Ini dia.” (Rudel)

Bertujuan untuk kehidupan yang pasti, Rudel membawa ID-nya seperti yang tercantum dalam peraturan sekolah yang telah dia konfirmasikan sebelumnya. Ketika dia menyerahkannya …

“… Rudel Asses? Archduke Asses-sama !!! Pe-permintaan maafku yang terdalam !!! aku sudah terlalu jauh melampaui batasku! Kamu punya urusan di asrama perempuan, benar? Aku akan membawamu kembali sekarang … ”

“Ti-tidak, aku benar-benar tersesat!” (Rudel)

“Iya! Da-dalam hal itu, aku akan meminta ‘seseorang yang dapat memperkenalkanmu kepada wanita macam itu’ jadi tolong, jika mungkin … tolong, jangan siswi … aku minta maaf, aku bersikap kasar, bukan maksudku . “

Rudel memandang prajurit wanita yang tergesa-gesa itu dengan belas kasihan. Dan pada saat yang sama, dia mengerti bagaimana dia terlihat … apakah dia benar-benar terlihat kelaparan? Itu di pikirannya, dia menjadi sangat tertekan.

Entah bagaimana dia bisa menjernihkan kesalahpahaman, Rudel kembali ke kamarnya dan santai. Mungkin berinteraksi dengan lebih banyak orang daripada sebelumnya telah membuatnya lelah, dan meskipun itu masih terlalu cepat, dia memutuskan untuk tidur.

Begitu pagi datang, dia membuka matanya saat fajar, itu telah menjadi kebiasaannya. Setelah mendapatkan seragam yang dia lupa ambil dihari sebelumnya, dia menyadari dia masih punya waktu, jadi dia memutuskan untuk pergi ke halaman asrama anak laki-laki.

Tapi pemandangan itu tidak terlalu tenang. Kerumunan orang sedang mempraktekkan kemampuan pedang mereka dan mengadakan pertandingan, suara kayu dan logam bertabrakan di sekitar. Pemandangan itu adalah salah satu yang menyenangkan Rudel.

(Semua orang bekerja keras. Jika aku tidak melakukan yang terbaik, mereka akan menyusulku dalam waktu singkat.)

Rudel akhirnya menemukan ruang terbuka di halaman dan mulai mengayunkan pedangnya. Sejumlah senior menemuinya dan mencoba mengatakan sesuatu, tetapi dia memutuskan untuk meninggalkannya karena mereka telah melepaskan keringat mereka sendiri.

Setelah beberapa saat berlalu, bel berdering enam kali … mendengar itu, para siswa mulai membersihkan keringat dan berjalan menuju kafetaria. Rudel ragu-ragu apakah akan mengikuti mereka atau tidak.

“Kamu siswa baru, bukan? jika kamu akan pergi, kamu dapat pergi sekarang … tempatnya kosong sekitar jam segini. ”

“Sudah tertulis bahwa kafetaria sangat populer, jadi lebih baik untuk bergegas.”

Rudel mengingat daftar petunjuk penting yang pernah dia baca sebelumnya. Berkaitan dengan itu, anak laki-laki adalah kelas kakap,

“Itu Semakin ramai ketika bel berbunyi tujuh kali. Tapi orang-orang di sekitar sini adalah satu-satunya yang ada di jam ini. ”

Jadi dia mengikuti kakak kelasnya, dan memasuki kafetaria sekolah. Di dalamnya, bentuk-bentuk anak laki-laki dengan piring mereka menumpuk tinggi dengan makanan … menyebabkan perutnya sendiri sakit.

“Lihat, bukankah itu kosong? Aku Vargas, tahun ketiga. “

“Aku Rudel. Rudel Asses. ” (Rudel)

“Seorang Bangsawan? aku berasal dari stick, jadi aku sedikit suram ketika menyangkut para bangsawan … baik apa pun itu, mari pergi bersama. ”

Senior Vargas, dengan rambut panjangnya yang merah diikat ke belakang. Kulit coklatnya yang kecokelatan dan posturnya terasa sedikit menakutkan, tetapi setelah berbicara dengannya, dia adalah pria muda yang ramah.

“Iya!”

Untuk Rudel, itu adalah saat dimana dia bisa mendapat teman yang bisa dia ajak bicara di luar keluarganya.

Kembali ke kamarnya dari kafetaria, Rudel mengganti seragamnya, memasuki sebuah gedung besar di bawah perintah akademi. Alih-alih auditorium, itu simple … benar, itu adalah ruang seperti arena. Karena pertempuran benar-benar terjadi di ruang ini, uraiannya tidak salah, tapi …

“Aku bersukacita karena banyak anak muda yang bisa kami sambut melalui pintu kami ini …” (Kepala sekolah)

Setelah menerima sambutan panjang kepala sekolah, para siswa dibagi ke dalam kelas dan dikirim ke ruang kelas mereka. Secara umum, sekolah hanya mengajar dasar selama dua tahun pertama, dan pemisahan kelas hanya untuk memisahkan bangsawan, atau mengumpulkan orang-orang dari kedudukan rendah di satu tempat … mereka melakukannya dengan sewenang-wenang.

Tapi Rudel adalah putra tertua keluarga Asses, salah satu dari Tiga bangsawan(TLN: Mungkin sebaiknya pake lord saja mulai dari sini). Untuk menghindari ketidaksopanan, dia dikirim ke kelas yang dipadatkan dengan bangsawan muda. Dan tahun ini, selain Rudel, putra tertua dari Tiga lord lainnya juga akan masuk, jadi akademi dipenuhi dengan udara tegang.

“Aku harap kita bisa bersama selama dua tahun ke depan.”

Guru wali kelas memberi salam dengan ringan, dan perkenalan kelas … seharusnya berakhir dengan aman.

Tetapi itu tidak mungkin terjadi. Sesuatu pasti akan terjadi, tidak, dia harus membuat sesuatu terjadi! Sensasi aneh menguasai Rudel. Mengkhawatirkan sensasi yang belum pernah dirasakannya sebelum datang ke akademi ini, Rudel menyelesaikan perkenalannya sendiri tanpa insiden.

Dan lagi!

“Izumi Shirasagi.”

Dengan diperkenalkannya seorang gadis, udara kelas mulai terasa berat. Rambut dan mata hitam adalah pemandangan langka di Courtois; ciri-ciri oriental itu menjadi target sempurna bagi anak-anak. Ejekan bermunculan, dan pernyataan untuk menyakiti gadis itu berkibar.

Sebuah kelas yang berpusat di sekitar bangsawan. Untuk seorang gadis oriental berada di kelas itu, itu mungkin berada di bawah kepura-puraan pertukaran budaya. Sebenarnya, dia mengarahkan mata ke arah lain untuk memastikan para bangsawan tidak saling menyerang satu sama lain.

Anak-anak di belakangnya menarik rambutnya yang panjang, yang dikuncir kuda … Dalam gadis yang dilecehkan itu, Rudel seperti melihat adiknya sendiri Lena. Tidak seperti rambut Lena yang tidak beraturan, itu terlihat halus jika disentuh.

“Mengapa kalian tidak berhenti? Apakah kalian tahu betapa memalukannya diri kalian? ” (Rudel)

Hanya butuh satu baris kalimat dari mulut Rudel untuk membuat kelas kembali ke keheningan. Sang guru mendukungnya dan memperingatkan para siswa yang menggodanya. Untuk anak-anak yang dibesarkan dalam masyarakat bangsawan, mereka sangat peka terhadap urutan kekuasaan. Dengan status keluarga, tidak ada orang yang bisa melawan Rudel yang berasal dari Tiga lord.

Dan pada akhirnya, guru memuji Rudel, dan orang-orang di sekitar setuju … dengan Rudel. adegan itu tampak sangat aneh.

———— bersambung ———–